Kehidupan Para Sales(SPG) Metropolis di Palembang

Seksi, Bagian Strategi Pemasaran. Menjadi seorang sales girl, selain harus memiliki tampang dan bodi yang aduhai, juga harus pandai merayu konsumen. Hal itu diperlukan agar konsumen tertarik dan membeli produk yang dijualnya. Coba saja kalau seorang sales girl memasang muka judes dan jaim (jaga image), bisa jadi barang dagangannya tidak akan dibeli konsumen, bahkan mungkin disentuh pun tidak.Menariknya, kebanyakan para sales ini adalah mahasiswa. Rina Purnamawati yang biasa disapa Rina, salah satunya. Kelahiran Palembang, 5 Februari 1989 itu, tercatat sebagai mahasiswi semester VI, Jurusan Komputer Akuntansi Universitas IGM Palembang. Kemudian, Silka Pradifta Rama Aprita. Silka begitu panggilan cewek kelahiran Palembang, 25 April 1988 lalu merupakan mahasiswi semester VII Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang.Sales lainnya, Intan Maharani (Intan), kelahiran Palembang, 22 Juli 1989. Ia adalah mahasiswi semester I, Fakultas Ekonomi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Palembang. Kemudian, Karmila Rosa alias Mila yang lahir di Palembang, 12 Mei 1988, tercatat sebagai mahasiswi semester VI Jurusan Teknik Telekomunikasi Program D-3 Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang.

Keempatnya merupakan sales salah satu produk rokok yang beberapa waktu lalu, menggelar acara di Atrium Palembang Trade Centre (PTC) Mall. Lantas, mengapa mereka mau menekuni profesi ini? Bukankah kesibukan kuliah lumayan padat? Berikut wawancara wartawan Sumatera Ekspres, Kemas A Rivai dengan mereka di sela-sela acara A Mild Live Drop Box Zone.

Sudah lama menjadi sales?

Rina: Sejak pertengahan 2008.
Silka: Sudah sekitar dua tahunan.
Intan: Lebih kurang tiga tahunan.
Mila: Sekitar 4 tahunan.

Kenal pekerjaan sales dari mana?
Rina: Ditawari oleh teman yang sudah lebih dulu jadi sales.
Silka: Waktu itu ada dari EO (event organizer) yang datang ke kampus nawarin buat jadi female promotion atau SPG (sales promotion girl) salah satu produk rokok.
Intan: Mulanya ditawari sama agency. Kebetulan aku juga berkecimpung di dunia modeling.
Mila: Tahunya juga dari teman aku sesama model.

Sistem kerja sales itu seperti apa sih?
Rina: Part time (paruh waktu, red) dan tergantung event. Tapi, ada juga yang dikontrak. Kalau Rina pilih yang part time aja, lebih simple.
Silka: Kalau pas ada event kerjanya sekitar 8 jam, mulai dari pukul 8 pagi hingga 5 sore.
Intan: Ada kontrak, tapi ada juga yang hanya part time. Tergantung sama kitanya sih. Tidak ada patokan waktu.
Mila: Part time, sembari ngisi kekosongan. Tapi, ada juga yang kontraknya. Ya, boleh dibilang tergantung dengan event-nya.

Berapa sih honornya?
Rina: Kalau jumlahnya relatif. Pas event seperti ini (acara salah satu produk rokok, red) pastinya lebih besar ketimbang di luar event.
Silka: Ada deh. Tapi, kalau buat keperluan kita, lebih dari cukup.
Intan: Biasanya kalau pas event khusus seperti ini (ada event) per harinya kita dapat honor Rp200 ribuan. Kalau lagi tak ada event maksimal Rp150 ribu per hari.
Mila: Sama, Rp200 ribu untuk event dan Rp150 ribu bukan event. Lain lagi kalau kita dikontrak, semisal ada road show keliling daerah, itu lebih besar lagi honornya.

Buat apa?
Rina: Dikumpuli dan buat tambahan keperluan sehari-hari.
Silka: Langsung ditabung.
Intan: Paling dipakai buat beli keperluan di luar kuliah. Kalau biaya kuliah kita masih ditanggung ortu (orang tua).
Mila: Paling banyak ya ditabung buat masa depan.

Kok tertarik jadi sales?
Rina: Selain sekadar having fun dan mengisi kekosongan juga untuk cari-cari relasi dan pengalaman kerja. Termasuk, tergiur juga dengan honornya, Kak. He. . . he. . .he. .
Silka: Memperluas pergaulan dan mencari teman juga. Lumayan honornya buat nambah belanja keperluan, tanpa mesti membebani ortu.
Intan: Hanya sekadar mengisi kekosongan aktivitas kuliah. Sekaligus pengen cari pengalaman kerja. Selain itu, karena Intan juga model, ya jadinya pas sekalian bisa menambah relasi.
Mila: Tambah wawasan, Mas. Sekaligus belajar gimana susahnya cari uang. ‘Kan buat masa depan juga. Asal positif tak masalah.

Sales, pakaiannya mesti minim dan seksi (maaf)?
Rina: Itu barangkali merupakan salah satu strategi pemasaran produk untuk bisa mendapatkan konsumen.
Silka: Hanya sebatas strategi pemasaran produk. Ndak lebih dari itu.
Intan: Mungkin itu hanya sebatas untuk menarik konsumen. Intan fun-fun aja sepanjang itu tak melenceng dari aturan dan kaidah agama.
Mila: Ndak minim banget, Kak. ‘Kan kita masih ada short (kaus kaki sebatas paha, red). Emang kelihatan seksi banget.

Apa tidak takut dicap negatif?
Rina: Kalau saya enjoy aja, Kak! Sepanjang dari kitanya memang berniat kerja, bukan yang lain.
Silka: Tampilannya ‘kan masih sopan. Yang negatif itu tergantung dari kitanya sendiri juga. Konsumen kalau kita tak bertindak neko-neko mereka juga segan pastinya.
Intan: Kalau dicap negatif ada juga khawatirnya. Tapi, itu balik-balik dari diri kita juga. Mesti pintar jaga diri.
Mila: Yang namanya tuntutan profesi ya, harus seksi. Kalau saya sederhana, asal tidak menyimpang dari itu, tak masalah. Orang juga tidak akan berpikir negatif kok.

Ortu dan keluarga mendukung?
Rina: Awalnya sempat ditentang. Katanya, mending kalau mau cari pekerjaan sampingan di bidang lain saja. Tapi, lambat laun mereka akhirnya menerima. Karena, Rina memang betul-betul kerja, ndak ada yang lain.
Silka: Mereka mendukung. Yang penting kalau kerja harus benar. Jangan khianati kepercayaan yang mereka berikan.
Intan: Awalnya tak memperbolehkan. Tapi itu bagaimana cara pendekatan dan penjelasan yang kita berikan. Lambat laun mereka ngerti. Termasuk, kalau harus keluar kota biasanya ada pendamping dari keluarga.
Mila: Sempat menolak juga. Ya, itu tadi kak. Sales ini lebih cenderung dicap negatif ketimbang yang positifnya. Tapi, setelah Mila buktiin kalau memang benar-benar kerja, mereka sekarang mendukung.

Bagaimana dengan pacar?
Rina: Sempat ngelarang juga waktu tahu aku kerja gini. Tapi, setelah diberi pengertian, dia dukung. Yang terpenting adalah saling percaya.
Silka: Dia dukung, tapi katanya kalau bisa jangan kerja di malam hari, bisa bahaya.
Intan: Dia ngerti kalau aku kerjanya seperti ini. Asalkan positif dan bisa saling memahami dia anggap tidak masalah.
Mila: Dia mendukung penuh kok.

Lulus kuliah, apa tetap menekuni pekerjaan ini?
Rina: Pastinya tidak dong. Jadi sales ini hanya semacam batu loncatan. Apalagi, rata-rata kita masih pada kuliah. Fokus utamanya ya nyelesain kuliah dan cari pekerjaan yang tetap.
Silka: Tidak mungkin kerja seperti ini terus. Pastinya pengen kerja tetap.
Intan: Jadikan ini semacam menimba ilmu dan pengalaman. Kalau untuk dijadikan pekerjaan tetap tidak.
Mila: Selesai kuliah pengennya cari pekerjaan yang lain di luar ini।
http://www।sumeks.co.id

What's Your Rashee? (Go See Wake Up, Sid Instead)



I never, ever thought I'd get sick of seeing Priyanka Chopra's lovely face, but hey, there's a first time for everything.

Went to see What's Your Rashee last night on a whim because I trusted Ashutosh Gowariker so much that I didn't care how far I had to travel (30 mins, so, ok, not too bad) or how many tests I had to study for. It was Ashutosh Gowariker, yaar! How could anything possibly go wrong?

Well. In the movie, Harman Baweja plays a guy who has to find a bride by the 20th of the month. He puts out some type of personal ad and, thanks to his dashing good looks, is flooded with responses. To narrow them down, he decides he will only meet one girl for each zodiac sign. All 12 of these women are played by Priyanka Chopra. YAWN. Here's the thing (in my humble opinion): Priyanka did a fine job of acting "different" for each character (and she deserves praise for this--this is the first time any actress anywhere has played 12 roles in one film!), but she just wasn't interesting enough to keep me entertained for 12 poorly written mini-stories. Gosh, I really feel bad saying that, because I could tell she tried to give each underwritten character their own identity. But the film was so drawn out that it was boring nonetheless, and I walked out feeling like Priyanka and I needed some space. Then we had her paired with a dud like Harman Baweja who's less exciting than my microbiology professor, and, well, there you have it (And this guy is supposed to play Siddarth's character in the Hindi version of Bommarillu?!?Say it ain't so!).

Why didn't Ashutosh Gowariker go the cameo-role route and have 12 "surprise" actresses pop up to represent each sign? Then at least I would have had something to look forward to other than the ending credits (literally--I spent most of the last hour praying that each woman would be the last and that we'd already covered all the rashees, only to discover, to my dismay, that nope, we hadn't met the Leo girl yet...ARGH!!).

I can't help thinking that the film may have worked had it been a more charismatic duo than Harman and Priyanka. I'm thinking Anil Kapoor and Sridevi could have pulled this off back in the day, or even better, what about Rani and Abhishek? Now wouldn't that have been a blast?

More bad news: The song picturizations were boring (except for the very last one which was really cool--see below under "The Good News") and awkwardly placed, a shame since most of them were actually really pretty. 90% of them felt like fillers. I cannot tell you how badly I am jonesin' for a good song picturization! Each new film seems to be let down after let down. :(

It was interesting(and quite bothersome) that it just seemed to be assumed that Harman's character was such a "good catch". Like he got to pick from 12 girls who would be just elated to end up with a guy like him. Sure, a couple of them said no, but they had external reasons for doing so like not wanting to leave India or rush into marriage. Why couldn't more of the girls just say no because...well, because they just didn't feel there was anything there? Couldn't there have been one girl who said, "I'm just not really attracted to you like that, but we can still be friends"?

One more nagging gripe and then I'll stop complaining: The ending wasn't all that, and there were stones left unturned a.k.a some of the subplots weren't sufficiently resolved. Not all of my questions were answered, and that sucks after you sit through a 3 hour+ snoozefest.

THE GOOD NEWS:

*Ashutosh Gowariker is still a kick-a** director, and the cinematographer did some nifty camera tricks. This certainly doesn't fall flat because of poor execution. The scenes were colorful and crisp and some of the shots were really gorgeous.

*Priyanka's so prrrety. And now we know that she's not afraid to bare down and scrub the makeup off to play a quirky character. I don't think Aishwarya would have played someone like, for example, Anjali (The first girl Yogesh meets).

*Harman is hot. Why couldn't I have bumped into him when I lived on Sunnyside and Ravenswood? ;) He's not a bad dancer, either, but I don't think he's half as good as he thinks he is.

*We see women with power and real jobs. One is a doctor, the other president of a corporation (at least I think she was president--she sure held a lot of clout).

*The last song was really neat. Like Aamir in Ghajini, its picturized on multiple Priyankas, and she does an awesome job of dancing differently for each character. Oh, and the guitar song was pretty, but got boring after awhile due to poor picturization.

And--**** BIG SPOILER ****--- Yogesh ends up marrying the girl with my zodiac sign! Hooray!(****END SPOILER****).

****UPDATE...LATER THIS EVENING******
After writing this post and reading Darshit's review, I went to go see Wake Up, Sid starring Ranbir Kapoor and Konkona Sen. I really enjoyed it, so much so that it'll be awhile before I can say anything other than "Omg! That was so awesome!!!". So if you're looking for something to see this weekend, bypass What's Your Rashee and check out Wake Up, Sid instead.