Meraup Uang dengan Kecantikan

Sering melihat perempuan-perempuan berparas ayu melayani pembeli di toko atau pameran? Itulah fenomena baru metropolis. Perempuan-perempuan ayu yang bekerja sebagai sales promotion girl (SPG). Kehidupan metropolis saat ini memang melahirkan profesi baru. Hadirnya beragam produk yang membutuhkan tenaga-tenaga profesional untuk memasarkannya juga makin mendukung hadirnya profesi ini. Bekerjanya juga tak hanya di toko, pameran atau mal. Kadang mereka harus berkeliling ke tempat-tempat ramai untuk menawarkan produk yang dijajakan. Paling sering yang berkeliling adalah SPG yang bekerja untuk produk rokok. Saat ini, profesi SPG makin diminati. Bukan hanya karena jam kerjanya yang tidak terikat, bayarannya juga tergolong tinggi. Bisa dibayangkan, dengan jam kerja hanya enam-delapan jam sehari, bisa mengantongi bayaran minimal Rp 150 ribu. "Menjadi SPG cukup menguntungkan. Jam kerjanya bisa diatur, tetapi bayarannya lumayan tinggi," ujar Ika, perempuan cantik yang mulai menekuni dunia SPG pameran sejak 2006 silam. Karena tak begitu sulit, profesi ini hampir terbuka bagi siapa saja. Termasuk, mereka yang masih sekolah atau kuliah. Sebab, tawaran pekerjaan yang diterima bisa disesuaikan dengan jadwal kuliah. Apalagi, jika evennya berlangsung pada malam hari. Menggeluti profesi ini juga tak butuh syarat muluk-muluk. Apalagi, sampai proses seleksi yang berbelit-belit, sebagaimana pekerja kantoran. Memiliki kemampuan komunikasi yang baik didukung dengan postur tubuh yang memadai, sudah bisa bergabung dengan profesi ini. Sebab, tujuan akhir yang diharapkan dari para pemakai jasa SPG ini adalah memikat pelanggan. Jadi cukup mengerti spesifikasi produk, ditambah kemampuan komunikasi dan penampilan yang menarik, SPG dianggap sudah bisa memikat konsumen. Tak sekadar honor. Bagi SPG yang sukses dengan penjualan yang cukup besar, tentu bakal meraup untung. Sebab biasanya, para pengguna jasa juga sudah menyiapkan bonus. Jadilah profesi ini makin digemari. Seperti diakui Naomi, mantan SPG yang kini sudah dikontrak di salah satu perusahaan otomotif terkemuka di daerah ini. "Dulu saya pernah menjadi SPG ponsel CDMA. Dalam beberapa hari saja, terjual 100 unit ponsel dengan harga Rp200 ribu. Saya dapat bonus besar dan selalu dipercaya menjadi SPG. Tentu saya sangat senang," urai Naomi. Tidak heran, mereka yang sudah pernah mencoba bekerja sebagai SPG juga makin betah. Bahkan, ia tak hanya bekerja untuk satu produk, melainkan bisa berpindah dari produk yang satu ke produk yang lain. Malah, sudah ada yang membuat kelompok-kelompok tersendiri. Sehingga satu orang kebagian job, ia bisa mengajak rekannya yang lain. Maklum, tawaran bekerja sebagai SPG biasanya tak hanya mencari satu atau dua orang. Tetapi biasanya lebih dari itu. Dengan membentuk kelompok-kelompok membuat mereka juga lebih nyaman bekerja. Bukan sekadar membagi pekerjaan, tetapi juga membagi pengalaman. Tapi, tak jarang juga sudah mengarah pada persaingan-persaingan kelompok. (*)

link : http://lifestyle.fajar.co.id